Wednesday, February 8, 2012

Pengaruh stress pada kesuburan.

Dok, saya ibu rumah tangga berusia 30 tahun. Sudah menikah dua tahun, tapi belum dikaruniai anak. Selama ini, suami saya bekerja keras setiap hari tidak mengenal waktu.
Stres Berpengaruh Pada KesuburanHubungan seks kami tergolong lancar, seminggu bisa tiga hingga empat kali. Kami juga sudah periksa ke dokter. Katanya, tidak ada masalah.
Apakah stres dan capek bisa memengaruhi kualitas dan kuantitas sperma suami?

Sampai saat ini, ada dua penyebab utama yang paling mengganggu kualitas sperma. Pertama, varikokel. Kedua, infeksi.
Varikokel adalah varises pada pembuluh darah balik (vena plexus pampiniformis) di sekitar testis. Kondisi itu mengakibatkan suhu terus meningkat. Terjadi aliran zat racun (katekolamin) dari kelenjar anak ginjal. Dua hal tersebut mengakibatkan kualitas sperma kurang baik.
Sementara itu, infeksi pada organ reproduksi pria akan mengganggu kualitas sperma.
Akhir-akhir ini, banyak diketahui beberapa penyebab stres lain yang bersifat fisik dan mampu mengganggu kualitas sperma. Antara lain, zat polutan. Tentang kaitan stres psikologis terhadap gangguan kualitas sperma, secara teoretis, itu bisa. Kondisi stres mengakibatkan hormon stres meningkat. Selanjutnya, mengganggu produksi hormon reproduksi.
Pada pertanyaan Ibu, tak disebutkan apakan suami sudah periksa sperma atau belum. Jika hasil analisis sperma kurang bagus, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mencari penyebab gangguannya.
Dari aspek reproduksi, yang perlu dipahami, kehamilan hanya dapat terjadi jika hubungan seks dilakukan saat istri masa subur.
Praktisnya, sekitar perhitungan masa subur istri, dianjurkan berhubungan suami istri minimal dua hari sekali. Data penelitian menyebutkan, semakin sering berhubungan sekitar masa subur, kemungkinan hamil pun lebih besar. (Hudi Winarso – Androlog)

No comments:

Post a Comment